“TRADISI WETONAN BUBUR SENGKALA”
Pada kesempatan kali ini, saya mengamati ritual wetonan kakek saya yang kira-kira berumur 80 tahun. Wetonan ini dilakukan berdasarkan pada keadaan kakek yang sudah tua dan mulai berbicara dengan pembahasan yang tidak jelas (ngelantur), sering lupa nama-nama anak cucunya, sering sekali berpandangan kosong, dan lain sebagainya. Tradisi wetonan bermaksud untuk memohon kepada Allah swt. agar diberikan umur barokah, keselamatan, dan kebaikan-kebaikan lainnya serta berharap kepada Allah swt semoga dicabut dalam keadaan khusnul khotimah. Pelaksana ritual ini terdiri dari minimal keluarga dekat dan tetangga kanan-kiri.
Dalam tradisi wetonan, terdapat pula peralatan-peralatan yang digunakan untuk mendukung ritual ini baik itu berupa benda seperti karpet/ tikar yang digunakan sebagai alas duduk, makanan-makanannya seperti bubur sengkala dan jajanan pasar, ataupun pakaian yang digunakan oleh pelaksana saat melaksanakan ritual yakni baju atau busana muslim.
Bubur sengkala (bubur abang) adalah bubur yang terbuat dari beras ketan dicampur dengan gula merah. Cara penyajiannya yaitu bubur yang berwarna merah dengan porsi yang lebih banyak dituang diatas piring dengan atasnya diberikan sedikit bubur yang berwana putih. Adapun filosofi dari bentuk penyajian seperti itu adalah bahwa akan hilang sengkalanya (balak/keburukan) dan kemudian datanglah kebaikan. Merah diartikan sebagai keburukan dan putih sebagai kebaikan. Bubur sengkala yang disajikan dalam tradisi wetonan pada umumnya berjumlah ganjil (waktu itu berjumlah 11 piring) dengan maksud bahwa Allah swt. menyukai hal-hal yang bersifat ganjil dengan contohnya adalah asmaul husna. Kemudian maksud dari adanya jajanan pasar dalam ritual keagamaan ini adalah bahwa jajanan yang ada di pasar memiliki beragam jenis dan warna begitupun juga rasanya. Hal ini diibaratkan dengan kehidupan. Sifat kehidupan di dunia ini sangat beragam, ada banyak kebaikan dan begitu pula dengan keburukan.
Ritual ini dimulai dengan meletakkan bubur-bubur sengkala yang siap untuk disajikan dan tentunya dalam jumlah ganjil beserta jajanan-jajanan pasar ditengah-tengah pelaksana ritual (jumlahnya ganjil pula) yang sudah duduk membentuk lingkaran di ruang tamu. Duduk membentuk lingkaran ini juga memiliki filosofi tersendiri yakni dengan duduk melingkar yang secara otomatis berhadap-hadapan, pelaksana ritual yang satu dan yang lainnya dapat menjalin silaturrahmi dengan baik.Setelah semua berkumpul, seseorang yang memimpin jalannya ritual mengucapkan salam, kemudian mengucapkan puja-puji syukur kehadirat Allah swt., mengucapkan shalawat kepada Rasulullah, lantas pemimpin jalannya ritual itu memohon bantua doa kepada pelaksana ritual lainnya untuk keselamatan dunia dan akhirat. Selanjutnya seseorang itu memimpin doa. Doa yang dibaca adalah doa selamat dan pelaksana ritual yang lainnya mengamini. Doa itu di akhiri dengan dengan bacaan Alfatihah kemudian pemimpin mengucapkan terimakasih kepada yang telah menyempatkan waktunya untuk menghadiri ritual keagamaan ini. Suasana dalam ritual ini sangat khidmat. Setelah disampaikannya ucapan terimakasih, pemimpin mengucapkan salam penutup dan kemudian bubur-bubur serta jajanan pasar yang ada ditengah-tengah dibagikan kepada orang-orang yang telah hadir. Dengan demikian, selesailah ritual keagamaan “wetonan” ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar